Sukses tidak diukur dari posisi yang dicapai seseorang dalam hidup, tapi dari kesulitan-kesulitan yang berhasil diatasi ketika berusaha meraih sukses

CREATIVE DESING BY AGUNG HERU W

CARA MENGUKUR TANAH

Senin, 19 Januari 2009

ILMU UKUR TANAH


data yang diperlukan
  • data horizontal yang menyangkut POSISI antara satu titik terhadap titik lain.
  • data vertikal menyangkut BEDA TINGGI tehadat satu titik ternadap titik lain.
  • data jarak yang menyangkut SELISIH antara satu titik dengan titik lain dalam bentuk jarak miring (lapangan) dan jarak datar (proyeksi)


1 praktek pengukuran

1. dengan menggunakan alat ukur water pass.

,


yang diamati dilapangan adalah pembacaan:
        • bentang tengah (BT),
        • bentang bawah (BB)
        • bentang atas (BA)
        • sudu horizontal kasar
WATER PASS


Angka angka pada BT, BB, BA dapat kita baca pada rambu yang ditegakan pada strat pot (patok kayu yang diberi paku payung) melalui water pass yang yelah distel.


cara penggunaan

  • pasang la trifood statif(kaki 3) setinggi dada juru ukur, dan pasang water pass pada kaki 3
  • atur lah alat ukur sehingga nivokontak tepat ditengah, dengan menggunakan 3 buah skrup penyetel
  • letakan rambu antara titi A dan B. aturlah BT, BB, BA agar nampak jelas dengan memutar skrup okuler yang berada pada pangkal teropong
  • arahkan water pass ketitik A baca BA, BB, BT, BT=BA+BB:2 kemudian ketitik B baca BA, BB, BT, BT=BA+BB:2
  • langsung dihitung JARAk BELAKANG : db = (BBb-BAb)x100 JARAK MUKA : dm = (BBm+BAm)x100
  • setelah pembacaan muka bacalah suduthorizontal yang berada pada kanan bawah teropong, dengan memutar teropong dari arah belakang kemuka searah jarum jam. sudut horizontal = sudut muka - sudut belakang




  • setiap pertambahan slang (pindah titik) jarak dijumlahkan sampai akhir pengukuran dalam satu seksi:
    1. db1 + db2 + ..... + dbn = ∑ db
    2. dm1 + dm2+ ......+ dmn = ∑ dm
    3. ∑ db haruslah = ∑ dm
  • Adapun yang perlu diperhatikan dalam pengukuran ini adalah:


  • a. Usahakan jarak antara titik dengan alat sama.


  • b. Seksi dibagi dalam jumlah yang genap.


  • c. Baca rambu belakang, baru kemudian dibaca rambu muka.


  • d. Diukur pulang pergi dalam waktu satu hari.


  • e. Jumlah jarak muka=jumlah jarak belakang.


  • f. Jarak alat ke rambu maksimum 75 m.


  • g. saat terbaik pengukuran pagi jam 06.00 - 11.00 siang jam 15.00 - 18.00

  • Sipat Datar Tertutup

    Sipat datar memanjang tertutup yaitu suatu pengukuran sipat datar yang titik awal dan titik akhir sama /berimpit.

    Agar didapat hasil yang teliti maka perlu adanya koreksi, dengan asumsi bahwa beda tinggi pergi sama dengan beda tinggi pulang.

    C = k / (n-1)

    C = Koreksi


  • k = kesaahan


  • n = banyaknya titik


  • (n-1) = banyak slag (beda tinggi)

    Metode Pulang Pergi

    Pada saat pembacaan rambu, digunakan metode pulang pergi, yaitu setelah mengukur beda tinggi AB, maka, rambu A dipindahkan ke titik C untuk mengukur beda tinggi BC sehingga akan kita dapatkan beda tinggi BC. Setelah itu, rambu B dipindahkan ke titik D sehingga akan di dapat beda tinggi CD. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kesalahan pembacaan rambu yang diakibatkan skala nol pada rambu yang dikeluarkan oleh pabrik tidak berada pada skala nol sebenarnya. Untuk mengoreksi data beda tinggi yang didapat, digunakan rumus:


  • 8√d; dimana d = jarak titik (km)


  • setelah semua data terkoreksi, maka beda tinggi antara dua titik dapat diketahui dengan rata-rata beda tinggi antara ulang dan tinggi.


  • ∆h = ∆H pergi - ∆H pulang / 2

    Pengertian Slag, Seksi dan Sirkuit


  • • 1 slag adalah satu kali alat berdiri untuk mengukur rambu muka dan rambu belakang.


  • • 1 seksi adalah suatu jalur pengukuran sepanjang  1-2 km yang terbagi dalam slag yang genap dan diukur pulang pergi dalam waktu 1 hari.


  • • 1 kring / sirkuit adalah suatu pengukuran sipat datar yang sifatnya tertutup sehingga titik awal dan titik akhirnya adalah sama.





















3 komentar:

razorback mengatakan...

kira2 mana yg lebih teliti theodolit manual atau yang digital ya????

Anonim mengatakan...

Untuk ketelitian alat yang sama (misal 9",7",6",dst.) yang digital tentu lebih reliable,digital theodolite (DT) mmg dimaksudkan untuk mengurangi human error dalam pengukuran, serta untuk menghemat waktu.
perlu diingat,krn DT adalah prgkat digital,resiko kerusakan lebih besar dibanding yg manual.jg jgn smpe lupa bw btrai cadangan saat oengukuran.

tp pada akhirnya keahlian operator alat yg menjadi penentu.

@

zia betros mengatakan...

trima ksih atas infonya...
aku copy yah..hehehehe

Poskan Komentar

KEMBALI KEATAS